Menegakkan Rasionalitas Nuklir Iran

Apa jadinya jika rudal-rudal berhulu ledak nuklir milik AS atau Israel menghantam instalasi nuklir bahwa tanah di Isfahan, Iran?

Para ilmuwan Amerika yang tergabung dalam Union of Concerned Scientists punya jawabannya. Dalam dua minggu, tiga juta penduduk Isfahan akan meninggal dan 35 juta warga Afghanistan, Pakistan, serta India akan berisiko kanker karena radiasi dari ledakan itu. Itu hanya dampak dari satu reaktor. Lantas, bagaimana jika AS dan Israel menyerang reaktor-reaktor yang lain atau basis-basis militer Iran?

Sungguh akibat yang sangat mengerikan, dan akan semakin membuat bulu kuduk merinding jika kita membayangkan harga minyak yang akan meroket hingga—meminjam estimasi Hugo Chavez—200 dolar per barrel. Konsekuensinya, ekonomi Cina, AS, dan Eropa akan mengalami guncangan hebat serta meningkatkan risiko resesi global, yang pada gilirannya mendorong negara-negara berkembang, seperti Indonesia, jatuh semakin jauh ke dalam jurang kemalangan.

Yang pasti, serangan itu—dan semoga tidak pernah terrealisasi—adalah bencana. Dan, bencana seperti itu tidak pernah ada yang menginginkannya kecuali mereka yang disebut oleh Mohammad ElBaradei, Dirjen IAEA itu, sebagai ‘orang-orang gila baru’

ElBaradei menyimpan kenangan yang tidak menyenangkan dengan orang-orang yang sama menjelang invasi ke Irak pada 2003 sebab mereka doyan memanipulasi fakta, menabur dusta, menebar ancaman, dan tentu saja menumpahkan darah manusia. Dan setelah Irak, mereka tengah menatap Iran sebagai tempat perhentian berikutnya.

 

Mengorupsi Informasi

Lewat media, mereka tidak malu-malu untuk mendiskreditkan ElBaradei, bahkan salah satunya melalui lontaran bernada rasis. Harian Israel Jerusalem Post (JP), sebagai contoh, menghujat ElBaradei sebagai ‘pro-Iran’ (“Israel: IAEA’s report ‘unacceptable’, 16/11/2007). Yang lucu sekaligus menyedihkan adalah ketika mereka mencoba menganalisis mengapa ElBaradei melindungi Iran? Harian Israel Haaretz berpendapat hal itu karena ElBaradei kelahiran Mesir sehingga kecintaannya bagi Israel tidak dapat diketahui (“Lieberman Bolsters ElBaradei”, 17/11/2007). Sementara JP memandang hal itu karena ‘dendam’ pribadi ElBaradei terhadap AS yang tidak mendukung pencalonannya sebagai ketua IAEA dua tahun lalu (“Why are the IAEA and ElBaradei Protecting Iran?”, 15/11/2007). JP bahkan mendesak agar ElBaradei, penerima Nobel Perdamaian 2005, mundur dari jabatannya untuk digantikan oleh Javier Solana (“Jerusalem Says Solana Could Trump ElBaradei”, 15/11/2007).

Ketika media-media Israel, seperti biasanya, berperan membunuh karakter seseorang, media-media Barat berupaya mengorupsi laporan terakhir IAEA tentang nuklir Iran (dirilis pada 15 Nopember) agar terdengar negatif.

Laporan Associated Press (“IAEA: Iran Not Open About Nuke Program”, 16/11/2007) jelas merupakan upaya penyesatan terhadap isi aktual dari laporan IAEA yang menegaskan bahwa informasi yang diberikan Iran “konsisten dengan temuan IAEA” (IAEA-GOV/2007/58/paragraf 11, 13, 16, 18, 21-23, dan 41).

Sementara itu, harian Inggris The Guardian, dalam salah satu laporannya (“Decision Time for US over Iran Threat”, 16/11/2007), mengklaim bahwa, menurut laporan IAEA, Iran telah memasang 3000 mesin sentrifugal sehingga kini memiliki kemampuan untuk memproduksi satu bom atom dalam setahun. Ini jelas kesimpulan berlebihan harian tersebut seraya meremehkan fakta dalam laporan IAEA bahwa level pengayaan Iran hanya 4,8% (paragraf 31), padahal untuk membuat bom diperlukan level hingga 90%. Terlebih lagi, selain harus melalui kendala-kendala teknis yang kompleks, Iran pun berada dalam pengawasan ketat IAEA, bahkan lebih ketat daripada negara-negara lain dengan status nuklir yang sama.

Upaya penyesatan lainnya tampak dalam laporan The New York Times (“Nuclear Report Finds Iran’s Disclosures were Inadequate”, 16/11/2007). Faktanya, kesimpulan atau kata “tidak cukup” (inadequate) sama sekali tidak ditemukan dalam 44 paragraf laporan IAEA. Sebaliknya dalam laporan itu, berkali-kali IAEA menyatakan informasi yang diserahkan Iran “konsisten dengan temuan IAEA” sehingga beberapa kasus dari masa lalu nuklir Iran telah dinyatakan selesai. Kalaupun masih ada sebagian isu yang belum terselesaikan, harian itu tampaknya lupa jika Iran memiliki kesepakatan dengan IAEA mengenai “penyelesaian terjadwal” hingga awal tahun depan, yang ditandatangani pada Agustus lalu.

 

Memanipulasi Diplomasi

Satu hal penting dalam laporan IAEA yang selama ini tenggelam dalam hingar-bingar propaganda media-media Barat adalah bahwa program nuklir Iran berstatus “non-diversi” (status ini sudah diberikan IAEA sejak 2004).

Menurut Michael Spies dari Lawyers’ Committee on Nuclear Policy, setidaknya ada dua konsekuensi logis dari status ini. Pertama, pengajuan kasus nuklir Iran ke Dewan Keamanan (DK) PBB secara definitif dapat dikatakan ilegal sebab pasal 19 Perjanjian Pengawasan IAEA menolak kemungkinan pelaporan ke DK-PBB bagi program nuklir suatu negara dengan status “non-diversi”. Kedua, pembekuan program nuklir yang difatwakan resolusi-resolusi DK-PBB dapat dinyatakan berada di luar wewenang legal DK-PBB (ultra vires) karena berkonflik dengan hak absolut (jus cogens) Iran untuk memperkaya uranium, sebagaimana diamanatkan traktat nuklir NPT (“Undeclared Nuclear Activities and Outstanding Issues: Clean Bill of Health?”, Mei 2006).

Alhasil, tuntutan Barat agar Iran membekukan aktivitas pengayaan uraniumnya sama sekali tidak mengikat Iran (non-binding) dan tidak bisa dijadikan alasan legal untuk terus menjatuhkan sanksi atas Iran.

Inilah yang paling dikhawatirkan Barat sehingga tidak sekali pun muncul penegasan status “non-diversi” ini dalam pemberitaan media-media mereka dan membuat panik mereka sehingga harus memojokkan figur sekelas ElBaradei sedemikian rupa.

Satu-satunya problem utama IAEA berkaitan dengan nuklir Iran adalah ketidakmampuan lembaga itu untuk menyatakan ketiadaan material nuklir yang tidak diinformasikan Iran. Hal itu  karena Iran belum meratifikasi Protokol Tambahan, standar pengawasan yang bersifat sukarela. Meskipun problem seperti ini tidak hanya dimiliki Iran mengingat terdapat lebih daripada 40 negara dengan status yang sama, uniknya media-media Barat membesar-besarkannya seperti seolah-olah Iran telah melanggar traktat NPT.

Patut dicatat pula bahwa Iran pernah secara sukarela menerapkan standar tersebut selama dua tahun (2004-2006), dan selama itu pula IAEA tidak menemukan penyimpangan. Iran menghentikan penerapannya setelah pihak Barat menolak mengakui hak absolut Iran atas energi nuklir sebagai konsesinya dan setelah kasus nuklirnya dilaporkan kepada DK-PBB.

 

Menegakkan Rasionalitas

Kini saatnya bagi wakil-wakil terhormat bangsa Indonesia di Wina dan New York untuk menegakkan rasionalitas dalam membendung upaya ‘orang-orang gila baru’ tersebut. Rasionalitas dalam kasus ini adalah menolak sanksi lanjutan dan mengembalikan persoalan nuklir Iran kepada IAEA.

Jangan lagi kita mengikuti pendekatan diplomasi “wortel dan tongkat” gaya AS, yang seringkali antara tongkat dan wortelnya tak sepadan. Jangan pula kita terus membeo sesat pikir AS yang menjadikan “ketiadaan bukti sebagai bukti” (argumentum ad ignorantiam). Tak ada satu pun pengadil waras yang akan mengatakan, “Karena saya tidak bisa memutuskan anda tidak mencuri, maka anda mencuri.” Jangan pun kita masih beranggapan bahwa resolusi DK-PBB atas Iran tidak berkaitan dengan opsi militer. Ingat Resolusi 1441 atas Irak telah ditafsirkan secara sepihak oleh AS sebagai otoritas untuk menggerakkan mesin-mesin perangnya.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: