Mujahidin Khalq dan al-Qaida Bekerja Sama di Irak

Laporan kerja sama operasi antara Mujahidin Khalq dan al-Qaida seperti menjadi mata rantai yang mengkonfirmasi koneksi “al-Qaida—AS—Israel—Saudi”.

Anggota-anggota al-Qaida dan kelompok teroris Mujahidin Khalq Organization (MKO) dilaporkan melancarkan serangan bersama di Distrik Vajiheh, di utara Irak.

Menurut sebuah situs yang berafiliasi dengan Patriotic Union of Kurdistan (PUK), serangan itu mengakibatkan empat orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka. Dalam serangan itu, MKO dan al-Qaida dilaporkan menggunakan roket-roket dan beberapa senjata kecil.

Laporan ini menjadi menarik karena dalam wawancara dengan Inter Press Service, Reese Erlich—jurnalis freelance yang selama 20 tahun terakhir meliput Timur Tengah serta penulis buku Target Iraq (2003) dan The Iran Agenda: the Real Story of U.S. Policy and the Middle East Crisis (akan diterbitkan Polipoint Press pada September 2007)—mengungkapkan fakta bahwa biro-biro intelijen Amerika Serikat (AS) dan Israel secara rahasia terlibat dalam mendukung dan mendanai kelompok teroris ini, dengan tujuan mendestabilisasi pemerintah Islam di Iran. “Saya menemukan adanya dukungan AS dan Israel bagi PJAK (kelompok pemberontak Kurdi Iran) dan MKO.”

Temuan Erlich bukanlah satu-satunya. Menurut Fred Burton, mantan agen kontra-terorisme Departemen Luar Negeri AS, dana untuk mempersenjatai kelompok-kelompok separatis anti-Iran dikeluarkan dari anggaran rahasia CIA. Tujuannya, menurut Burton, mensuplai dan melatih kelompok-kelompok ini demi melakukan destabilisasi pemerintah Iran . Dan, kelompok terbesar dari antara mereka adalah MKO.

MKO sebenarnya adalah organisasi yang telah mendapatkan “stempel” teroris dari Deplu AS pada 1997. Bahkan, pada 2003, seiring dengan terjadinya invasi AS ke Irak, militer AS berhasil melucuti senjata kelompok, yang tahun-tahun sebelumnya didanai dan difasilitasi rezim Saddam Hussein untuk mengacaukan stabilitas di perbatasan Iran. Namun sejak saat itu, Washington melihat MKO dengan pandangan yang berbeda. Tiga tahun lalu, para pejabat intelijen AS mengajukan opsi untuk mempersenjatai MKO kembali dan memanfaatkan kelompok ini guna mendestabilisasi Iran. Dan opsi itu diterima.

Bahkan jauh sebelumnya, jurnalis pemenang Pulitzer, Seymour Hersh, telah mengindikasikan, dengan mengutip beberapa sumbernya di Pentagon dan Washington, masuknya agen-agen intelijen Mossad, yang menyamar sebagai para pebisnis ke Kurdistan, dengan tujuan melatih beberapa unit komando dari kelompok-kelompok anti-Iran.

Kenyataan tersebut semakin kompleks jika dihubungkan dengan temuan Penasehat Keamanan Nasional Irak, Fadhil al-Syawili, yang diungkapkannya dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Alam, bahwa pemerintah Irak menemukan sejumlah dokumen yang menunjukkan adanya bantuan dana dari para pangeran Saudi—sebesar 30 juta dollar AS per bulan—kepada kelompok teroris bersenjata MKO.

Pada saat yang sama, media-media AS mengutip pernyataan beberapa pejabat AS yang tak ingin nama mereka disebutkan, bahwa Washington sedikit kecewa dengan Riyadh yang tidak secara maksimal menghentikan arus masuk uang dan manusia ke wilayah Irak melalui perbatasan Arab Saudi. Kekecewaan ini timbul setelah melihat data statistik bahwa sekitar 45% dari militan-militan asing yang menargetkan pasukan AS dan Irak serta warga sipil berasal dari Saudi. Data itu juga menunjukkan bahwa nyaris setengah dari 135 orang asing yang ditahan oleh AS di Irak adalah orang-orang Saudi.

Hersh dalam artikelnya “Redirection” (The New Yorker, 5 Maret 2007) bahkan secara jelas menyebut nama Pangeran Bandar bin Sultan (Sekjen Dewan Keamanan Nasional Arab Saudi) bersama Dick Cheney (Wapres AS), Elliott Abrams (Deputi Penasehat Keamanan Nasional AS) dan Zalmay Khalizad (Duta Besar AS untuk PBB) sebagai para pemain kunci dalam perubahan arah kebijakan Washington dari menargetkan al-Qaida kepada menjadikan Iran sebagai “musuh nomor wahid”.

Hal inilah yang dilaporkan menjadi faktor keberatan sejumlah anggota DPR AS terhadap rencana bantuan militer Washington kepada Saudi senilai hampir 20 milyar dollar. Mereka khawatir bahwa bantuan itu akan jatuh ke tangan para milisi asing, yang berafiliasi dengan al-Qaida. Dan, bantuan ini ditegaskan Menlu AS, Condoleezza Rice, sebagai upaya membendung pengaruh Iran di kawasan.

Hingga di sini, laporan kooperasi MKO dengan al-Qaida seperti menjadi salah satu “mata rantai” yang mengkonfirmasi koneksi antara “al-Qaida—AS—Israel—Saudi”. [irm]

Advertisements

One Response

  1. salam kenal! From http://pcmavrc.wordpress.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: