Irak dulu, kemudian Iran

Dalam laporan investigasinya pada majalah The New Yorker (02/25/07), “The Redirection”, jurnalis kawakan Amerika pemenang Pulitzer, Seymour Myron Hersh, mengungkap bahwa apa yang pemerintah Bush istilahkan dengan “strategi baru” tidak lain adalah upaya Washington untuk menghentikan eskalasi pengaruh Syiah di Timur Tengah, terutama yang berkaitan dengan Iran. Upaya ini dilakukan dengan mendanai—dalam jumlah besar dan tanpa otoritas Kongres—kelompok-kelompok radikal Sunni yang berafiliasi dengan al-Qaeda, sebuah kelompok yang justru Washington anggap terlibat secara langsung dalam peristiwa 9/11.

Persoalannya, adakah arah baru strategi AS ini merupakan sebuah ironi dan kebetulan belaka? “Ironi” karena AS justru terpaksa mendukung kegiatan kelompok-kelompok yang justru pada masa lalu dipandang membahayakan keselamatan rakyatnya sendiri. “Kebetulan” karena konon penguatan Iran dan sekutunya, kaum Syiah Irak, adalah konsekuensi yang tidak disadari AS ketika menggulingkan Saddam dan memberlakukan demokrasi di sana. Adakah memang demikian?

Minyak dan Visi Geopolitik AS

Sebelum menjawabnya, kita harus memperhatikan visi geopolitik AS selama lebih daripada 30 tahun terakhir, bermula pasca krisis energi di AS pada 1970-an. Visi geopolitik yang umum bagi sebagian besar pembuat kebijakan di Gedung Putih dan Pentagon adalah bahwa kunci keamanan nasional AS tidak lain adalah hegemoni global.

Untuk mewujudkannya, AS tidak hanya dituntut untuk siap menebar angkatan perangnya di mana pun dan kapan pun (fakta menunjukkan AS kini memiliki lebih daripada 700 basis militer di seantero dunia). Namun yang lebih penting, ia harus mampu mengendalikan aset-aset kunci global, dan terutama dari itu adalah minyak.

Kendali atas minyak bukanlah semata-mata mendapatkan bagian dari suplai minyak atau keuntungan dari kontrak eksplorasi. Lebih daripada itu, kendali atas minyak, dalam konteks geopolitik AS, adalah memegang kendali atas ketersedian energi dunia (termasuk di dalamnya soal harga dan tingkat produksi) dan menjaga akses kepada sumbernya dari pesaing-pesaing globalnya.

Berbicara tentang minyak, sebagai sumber energi utama dunia, maka siapa pun tidak akan dapat mengalihkan perhatiannya dari Teluk Persia. Padang gurun wilayah ini menyimpan dua pertiga cadangan minyak dunia. Bahkan, cadangan Arab Saudi (264,3 milyar barrel), Iran (132,7 milyar), dan Irak (115 milyar) telah menyumbang sepertiga cadangan minyak dunia.

Selanjutnya, untuk melihat betapa strategisnya Teluk Persia bagi visi geopolitik AS, maka poin-poin berikut perlu diperhatikan.

Pertama, dengan populasi hanya sebesar 5 persen dari total populasi dunia, AS justru mencatat konsumsi sebesar seperempat (sekitar 20 juta barrel per hari) dari konsumsi minyak dunia, yang totalnya adalah sekitar 80 juta barrel per hari. Menurut proyeksi Administrasi Informasi Energi AS, tingkat kehausan mereka kepada minyak akan melonjak hingga 30 juta barrel per hari pada 2025.

Kedua, AS tercatat sebagai salah satu negara yang produksi minyaknya telah melalui masa-masa puncak. Pada dasawarsa 1970-an, cadangan minyaknya hampir mencapai 40 juta milyar barrel tetapi memasuki 2004 tersisa sekitar 21 milyar barrel saja dan akan terus turun.

Ketiga, David Green dari Oak Ridge National Laboratory, dengan memanfaatkan kompilasi data geolog terkenal Inggris, Colin Campbell, mengestimasi bahwa puncak suplai minyak di belahan dunia non-Teluk Persia akan terjadi pada 2006. Lagi pula, dari data tahunan yang dirilis British Petroleum (BP) pada Juni 2006, di antara negara-negara Teluk Persia, hanyalah Iran dan, terutama, Irak sebagai negara yang masih dapat ditingkatkan produksi minyaknya, paling tidak hingga 2009 (Iran) dan 2020 (Irak). Sebaliknya Arab Saudi, menurut laporan tersebut, telah melampaui puncak produksinya pada 2006. Ini sejalan dengan estimasi banyak analis tentang kemungkinan mulai keringnya Ghawar, sumur minyak terbesar Arab Saudi (lihat David S. Elliott, “The Ghawar Oil Field: How Much is Left?”, 02/15/07).

Singkatnya, memiliki kendali atas Irak dan juga Iran, bagi strategi geopolitik AS, bermakna kendali atas dunia secara keseluruhan.

Paket Bernama Irak-Iran

Dengan demikian, tidak ada ironi ataupun kebetulan dalam arah “strategi baru” AS di Irak. Irak dan kemudian Iran adalah satu paket strategi dalam kebijakan keamanan nasional AS, yang diturunkan dari visi geopolitiknya tersebut, untuk menggenapkan kendali atas seluruh kawasan Teluk Persia.

Terdapat dua alasan mengapa kebijakan AS di Teluk Persia menempatkan Irak dan Iran dalam satu paket strategi. Pertama, AS sepenuhnya menyadari bahwa menguasai Irak tanpa mengamputasi pengaruh Iran sama saja dengan menyerahkan Irak secara cuma-cuma ke tangan rezim mullah di Iran, sebab tak dapat dipungkiri para ulama Syiah, baik Irak maupun Iran, hingga batas-batas tertentu, sudah sejak lama saling memberi pengaruh. Kedua, AS juga sepenuhnya tahu bahwa menguasai Irak tanpa Iran justru akan memperkuat pengaruh dan posisi strategis Iran di kawasan, sebab republik Islam ini adalah satu-satunya kekuatan independen di sana.

Terdapat fakta-fakta yang mengindikasikan status Iran sebagai satu paket—bersama Irak—target operasi strategis AS. Dalam Washington Post, 04/16/06, William Arkin, mantan analis intelijen AS, menulis bahwa pada awal 2003, ketika pasukan AS sedang mempersiapkan invasi ke Irak, US Central Command (komando pusat angkatan perang AS yang dibentuk untuk melindungi kepentingan-kepentingan AS di seluruh dunia), sudah mulai melakukan analisis mengenai perang berskala penuh dengan Iran, di bawah kode strategi TIRRANT (Theater Iran Near Term). Strategi ini mencakup seluruh aspek skenario, dari mulai mobilisasi dan penempatan pasukan hingga operasi keamanan pasca-perang, setelah terjadinya perubahan rezim di Iran.

Lebih dulu daripada analisis Arkin, sebenarnya Iran sudah lama menjadi target kepentingan (interest) dan tujuan (objective) keamanan nasional AS. Dalam USCENTCOM, 1995 Posture Statement, 1., dinyatakan tiga hal berkaitan dengan Irak dan Iran: [1] kebijakan keamanan nasional AS menginstruksikan sebuah strategi kendali-ganda (dual-containment) atas “negara-negara kriminal” (rogue states) Irak dan Iran; [2] strategi kendali-ganda ini didesain untuk menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan Teluk, tanpa bergantung, baik kepada Irak ataupun Iran; [3] keterlibatan AS di kawasan ini ditujukan untuk melindungi kepentingan vital AS, yakni akses aman-tanpa-interupsi kepada minyak Teluk.

Penutup

Ketika perang Irak belum lagi dapat dimenangkan AS, kini Washington telah memulai “perang” baru terhadap Iran. Perang bukan dalam kategori konvensional: tidak ada pegelaran pasukan, misil-misil yang menghantam gedung-gedung; dan tank-tank yang menyeberangi perbatasan. Namun, “perang” dalam wajahnya yang lain: mengintimidasi dan menjatuhkan sanksi ekonomi (Iran kini tengah menanti sanksi ekonomi yang lebih luas dari DK-PBB); propaganda provokatif melalui media-media massa; dan mendanai “barisan sakit hati” republik Islam serta pihak-pihak anti-Iran, meski mereka dahulunya adalah musuh-musuh AS. Dan, yang terakhir inilah yang ditemukan Hersh dalam investigasinya, di mana AS kini mulai mendanai milisi-milisi radikal Sunni untuk mendestabilisasi kondisi dalam negeri Iran.

Apa pun yang terjadi, satu hal yang patut diingat lekat-lekat bahwa ketegangan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan aktivitas nuklir Iran, level demokrasinya, catatan hak asasi manusianya, atau “mullah-o-cracy” sekalipun. Benar apa yang dikatakan Noam Chomsky bahwa problem sejatinya adalah republik Islam ini berdiri independen di tempat dan waktu yang salah: di wilayah yang kaya sumber daya energi fosil dan pada saat AS semakin haus akan minyak, bukan sebagai bahan bakar tetapi sebagai kekuatan, kekuasaan, dan hegemoni.

Advertisements

One Response

  1. Saya tiggal di gulf, UAE.
    kentara sekali kekhawatiran lokal terhdap Iran. Seperti apa hubungan sebenarnya yg terjadi antara iran-syiah dan gulf area sunni?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: