Dilema Amerika

Republika, 27 Maret 2007 [versi lengkap]

Oleh Irman Abdurrahman

Staf Islamic Cultural Center (ICC) Jakarta


Para pemikir neo-konservatif, dan tentu saja seorang George W. Bush, selalu saja punya jawaban sederhana terhadap banyak pertanyaan sulit. Mengapa banyak orang membenci Amerika Serikat? Karena mereka membenci kebebasan kami. Mengapa Muslim saling bunuh di Irak? Sebab mereka membenci satu sama lain. Mengapa “dunia ketiga” tetap terkebelakang? Karena mereka tidak menjalankan demokrasi. Mengapa banyak pemuda-pemuda Muslim menjadi teroris? Sebab Islam memang menginspirasi kekerasan.


Anggap saja semua itu barangkali benar tetapi apakah “Bush and the gang” punya jawaban yang sama sederhananya terhadap pertanyaan-pertanyaan berikut. Mengapa demokrasi seringkali datang bersama ratusan “bom pintar”? Mengapa efek trickle-down tak kunjung dinikmati banyak orang? Atau, lebih spesifik lagi, mengapa negara garda depan demokrasi, seperti Amerika, justru mendukung rezim-rezim brutal, korup, dan anti-demokrasi: Pahlevi di Iran; Somoza di Nicaragua; Saddam Hussein di Irak; Pinochet di Chili; Marcos di Filipina, dan banyak lagi?

Thomas Carothers, pemikir terkemuka demokrasi liberal, punya jawaban jujur. Menurut penulis Aiding Democracy Abroad ini, terdapat garis koneksitas yang kuat bahwa demokrasi dapat diterima hanya jika ia seiring sejalan dengan kepentingan-kepentingan strategis dan ekonomi, atau sebut saja “pasar-bebas”, terma eufemistik neo-kapitalisme.

Namun, jangan salah duga, bahwa kepentingan-kepentingan itu hanya milik negara-negara importir demokrasi, sementara negara-negara eksportir hanya fokus kepada nilai-nilai demokrasi. Fakta sederhana komplisitas Amerika di Iran, Irak, Nicaragua, atau Chili, menunjukkan bahwa perhatian pada demokrasi tidak sebesar fokus mereka kepada laju neo-kapitalisme. Dan, jangan pula membayangkan bahwa negara supermakmur itu akan menganeksasi negara-negara miskin, seperti halnya rezim-dagang VOC menjarah Nusantara selama ratusan tahun. “Development is freedom” memang benar tapi pembangunan dan perkembangan yang terkendali (under control development) oleh tali kekang para pemilik modal besar. Tak peduli siapa yang berkuasa, entah itu kaum agamawan bersorban, tenokrat berdasi, bangsawan feodal, maniak pembantai rakyat, atau bahkan iblis sekalipun, selama pembangunan masih terkendali, maka semuanya akan baik-baik saja.

Inilah dilema Amerika: ketika menyandingkan demokrasi dengan kapitalisme. Akibatnya, demokrasi bak sebuah lokomotif bermesin uap yang coba mengejar kapitalisme yang melaju kencang layaknya maglev supercepat. Dulu, dengan keunggulan modal, kecanggihan teknologi, dan keterampilan tenaga kerjanya, kapitalisme lama hanya butuh sumber-sumber bahan baku sekaligus pasar-pasar baru untuk mencari keuntungan komparatif (comparative advantage). Kini, neo-kapitalisme mengeksploitasi pasar buruh murah di “dunia ketiga” demi memburu keuntungan absolut (absolute advantage). Akibatnya, neo-kapitalisme tidak hanya mempertahankan prestasi pendahulunya dalam memiskinkan masyarakat “dunia ketiga”, tetapi juga menciptakan kantong-kantong kemiskinan baru di “dunia pertama”. Selain kehilangan banyak lapangan kerja, orang Amerika kini harus membeli sepasang Nike berbiaya produksi $2.60—karena dibuat oleh tangan-tangan mungil buruh anak di Indonesia yang bekerja 12 jam untuk upah 13 sen per jam—dengan harga $100.

Inilah dilema Amerika: ketika membiarkan neo-kapitalisme melawan sistem yang mereka buat sendiri. Bagi neo-kapitalisme, sebagaimana pernah dinyatakan “god-father” neo-konservatisme, Irving Kristol, “pertumbuhan” ekonomi (atau keuntungan) mesti terus diburu tanpa mempedulikan risiko apa pun. Dan, penetapan dollar sebagai rezim mata uang internasional membuat semua itu mungkin.

Ketika negara-negara lain harus lebih dulu menyeimbangkan neraca perdagangan mereka dari waktu ke waktu, dan hanya mengonsumsi hampir sebanyak apa yang mereka produksi, Amerika justru tidak harus menjual apa pun agar dapat membeli. Amerika bisa dengan mudah mencetak dolar dengan tanpa memperhatikan konsekuensi nyata terhadap dirinya atau kewajiban kepada yang lain. Bahkan lebih daripada sebelumnya, Amerika bisa saja mengabaikan penghematan dan terus menjalankan defisit perdagangan selama bagian lain dunia ini telah disiapkan untuk menerima dolar dan tidak memiliki alternatif lain.

Hasilnya, defisit perdagangan Amerika, pada fase pertama rezim Bush (2004) meroket hingga 413 milyar dolar, angka tertinggi dalam empat dasawarsa terakhir. Defisit bagi rakyat Amerika tapi tidak bagi korporasi-korporasi multinasional, Pentagon, Gedung Putih, dan Capitol Hill. Defisit bagi Amerika tapi beban penyesuaian neraca perdagangan global justru ditanggung semua mata uang negara lain. Sebuah kesepakatan gila!

Inilah dilema Amerika: ketika membiarkan kaum neo-kapitalis menyelubungi nafsu berperang mereka di bawah panji-panji ideal menyebarkan demokrasi. Dulu, kapitalisme lama menggunakan perang sebagai alat untuk menstimulasi pertumbuhan ekonomi dan menyingkirkan para pesaing bisnis, dengan masih disertai harapan bahwa dengan pasar dan dunia yang semakin terintegrasi, maka perang ke depannya akan menjadi sebuah solusi yang buruk. Namun di bawah neo-kapitalisme, ketika produk-produk militer tuntuk kepada hukum pasar, maka perang menjadi kebutuhan agar dapat memprovokasi adanya permintaan berskala besar kepada military industrial-complex, sebuah terma untuk oligarki global industri militer, yang hampir setengah abad lalu diramalkan Dwight D. Eisenhower akan menjadi mimpi buruk bagi demokrasi Amerika.

Namun, perang neo-kapitalisme tidak menstimulasi apa pun, terkecuali tentu saja keuntungan besar dan bagian signifikan dari anggaran pertahanan Amerika bagi industri-industri tersebut.

“Dunia ketiga”, yang sebagian besar wilayahnya dihuni umat Islam, jelas masih menyimpan banyak persoalan: level-level demokrasi yang belum ideal, pelaksanaan hak asasi manusia yang carut-marut, dan problem nasionalisme yang belum tuntas. Namun lepas dari itu, Amerika justru memendam problem yang lebih berbahaya, pseudo–complex ‘kopleksitas kepalsuan’: kepalsuan demokrasi, standar ganda hak asasi manusia, dan kebebasan yang semu.

Lantas kapan mimpi buruk ini berakhir? Seperti kata orang Amerika, it takes two to tango.

Advertisements

2 Responses

  1. Tulisan yang amat bagus analisisnya. Selamat berkarya dan berjuang membankitkan kesadaran umat Muhammad SAAW.

  2. Analisa yang bagus…and…keep on writing…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: