Halabja: Siklus sebuah Fitnah

Halabja adalah kisah tentang sebuah tragedi kemanusiaan yang teramat memilukan, bukan hanya karena ribuan hingga puluhan ribu warga Kurdi-Irak telah menjadi korban; dan bukan hanya karena mereka dibantai melalui bom-bom kuman biologis yang mematikan. Namun, ini karena Halabja kerap dieksploitasi untuk memproduksi fitnah demi tujuan politik pihak-pihak tertentu yang secara geostrategis berkepentingan dengan kendali atas minyak di kawasan Teluk Persia.

“Perang” Amerika Serikat atas Iran telah dimulai, tetapi bukan dalam bentuknya yang konvensional. Tidak ada mobilisasi pasukan dalam jumlah besar, tidak ada misil-misil yang menghancur-leburkan bangunan-bangunan, dan tidak ada tank-tank artileri yang menerobos perbatasan. Namun, “perang” dalam terminologinya yang modern: propaganda, atau sebut saja fitnah.

Caranya, memproduksi kasus-kasus terhadap Iran (fabricating cases against Iran). Sejak akhir 2006 hingga awal-awal 2007, halaman muka media-media massa dipenuhi berita tentang beragam tuduhan Amerika terhadap Iran: mulai dari [1] kapabilitas produksi senjata nukir; [2] keterlibatan dalam konflik sektarian di Irak; hingga kini [3] tuduhan bahwa Iran-lah yang bersalah atas “Halabja”, sebuah tragedi pembantaian manusia terburuk sejak Perang Dunia II.

Adalah Aljazeera (7 Maret 2007) yang pertama kali menulis sebuah artikel analisis tentang tuduhan keterlibatan Iran di Halabja. Artikel itu dipicu kesaksian Thariq Aziz, mantan perdana menteri Irak di era Saddam Hussein, pada pengadilan atas enam kolaborator Saddam dalam kasus “Anfal”. Ganjilnya, nyaris 90 persen artikel Aljazeera hanya didominasi analisis Stephen C. Pelletiere, analis senior CIA, yang dirilis oleh Defense Intelligence Agency (DIA) pada 23 Maret 1988. Inilah satu-satunya dokumen yang menuding Iran bertanggung jawab atas peristiwa di Halabja, yang sejak pertama kali dirilis telah memicu kritik terbuka dari banyak pihak independen. Dalam hal ini, Aljazeera, entah sengaja atau tidak, telah lalai menghadirkan opini-opini yang berbeda dalam artikelnya itu.

Sejarah Politisasi Halabja

Halabja adalah kisah tentang sebuah tragedi kemanusiaan yang teramat memilukan, bukan hanya karena ribuan hingga puluhan ribu warga Kurdi-Irak telah menjadi korban; dan bukan hanya karena mereka dibantai melalui bom-bom kuman biologis yang mematikan. Namun, ini karena Halabja kerap dieksploitasi untuk memproduksi fitnah demi tujuan politik pihak-pihak tertentu yang secara geostrategis berkepentingan dengan kendali atas minyak di kawasan Teluk Persia.

Segera setelah peristiwa di Halabja, Jurubicara Departemen Luar Negeri AS saat itu, Charles Redman, mengadopsi analisis Pelletiere tersebut sebagai pernyataan resmi Gedung Putih terkait dengan pihak yang bersalah dalam peristiwa tersebut. Dalam catatan Kongres Amerika pada 30 September 1988, Senator John McCain—kini seorang calon presiden dari kubu Republik—juga pernah membuat tudingan yang sama dengan berdasarkan atas analisis yang sama.

Namun seiring berjalannya waktu dan demi kepentingan Amerika menjelang invasi ke Irak pada 2003, Washington, sebagaimana diakui Pelletiere sendiri, tidak begitu tertarik dengan kesimpulan yang disebutkan dalam laporan DIA itu (yakni bahwa Iran-lah yang bersalah). Amerika pada saat itu (2003) terbukti menggunakan Halabja sebagai salah satu daftar kesalahan rezim Saddam sehingga menjadi salah satu dalih invasi Amerika ke Irak, di bawah payung besar “senjata pemusnah massal”. Saat ini, Thariq Aziz, atas dasar analisis dan laporan dari negara yang membuatnya menjadi pesakitan, kembali menghidupkan tuduhan yang sama; entah karena ingin membela diri atau mendapatkan konsesi Washington yang kini mengendalikan proses peradilan di Irak.

Tidaklah sulit untuk memahami perubahan sikap Gedung Putih tersebut. Pada 1980-an, Amerika berada di belakang Irak ketika rezim Baath memutuskan untuk menginvasi Iran. Analisis Joost Hiltermann—seorang direktur International Crisis Group dan juga mantan peneliti utama Human Right Watch (HRW) periode 1992-1994—memperlihatkan bahwa duta khusus Presiden Reagan untuk Timur Tengah, Donald Rumsfeld (mantan menhan di era George H.W. Bush), saat pertemuannya dengan Saddam Hussein dan Thariq Aziz di Baghdad, Desember 1983, sesungguhnya memberi sinyal bahwa Amerika akan menutup mata apabila Irak hendak menggunakan senjata biologis dalam perangnya melawan Iran, yang kemudian kita tahu berpuncak pada peristiwa Halabja (lihat Internasional Herald Tribune, November 29, 2002)[1].

Halabja: Siapa yang Bersalah?

Terlepas dari siklus fitnah di atas, sebenarnya tidaklah terlampau sulit untuk menetapkan pelaku kriminal dalam peristiwa Halabja. Ini karena tragedi ini berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama, mulai senja hari pada 16 Maret (36 jam sejak gerilyawan Kurdi pro-Iran dan pasukan elit Iran Garda Revolusi menguasai Halabja dalam perang Irak-Iran) hingga 18 Maret. Selain itu, peristiwa ini disaksikan sejumlah saksi mata, dari para sukarelawan HRW hingga para jurnalis Barat).

Dalam konteks kesaksian mata, amatlah sulit mengafirmasi kesimpulan Pelletiere. Pertama, sejumlah saksi mata, sebut saja Kaveh Golestan (jurnalis foto BBC), menyaksikan delapan pesawat yang menjatuhkan bom-bom biologis di atas Halabja bertipe MIG-23, pesawat tempur produksi eks Uni-Soviet[2]. MIG-23 adalah jenis perangkat militer yang tidak tercatat pernah dimiliki Iran. Sebaliknya, Irak tercatat pernah memanfaatkan jasa si “Flogger” yang diperkenalkan pada 1970 ini[3]. Kedua, jika analisis Pelletiere diterima, agak sulit dipahami bahwa Iran membom pasukan elit dan milisi pendukung mereka sendiri selama lebih daripada 48 jam.

Karena miskinnya elaborasi data yang didasarkan atas kesaksian mata, akibatnya analisis Pelletiere, yang lengkapnya berjudul “Iraqi Power and US Security in the Middle East”, hanya mendasarkan kesimpulannya pada soal jenis kuman biologis yang digunakan dalam serangan tersebut. Kalimat kunci dalam analisis tersebut menyatakan, “Sebagian besar korban di Halabja dilaporkan menderita karena hidrogen sianida. Kuman biologis ini tidak pernah digunakan Irak, tetapi Iran diindikasikan berkaitan dengan bahan ini.”

Analisis di atas melahirkan beberapa problem sebagai berikut.

Pertama, analisis terhadap korban-korban tragedi Halabja yang dilakukan pakar genetika Universitas Liverpool, Christine Gosden, menyimpulkan bahwa serangan tersebut meliputi racikan berbagai jenis kuman biologis, yang terdiri dari gas mustard, sarin, tabun, dan VX[4]. Jika ada laporan yang menyatakan sianida termasuk di dalamnya, menurut Gosden, hal itu sangat mungkin hanyalah residu dari tabun yang tidak sempurna, yang mana memang menghasilkan campuran sianida. Kesimpulan Gosden diafirmasi oleh Jean Pascal Zanders, pemimpin proyek riset senjata kimia dan biologis pada Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), yang menyatakan penggunaan hidrogen sianida dan teknologi untuk memproduksinya pasti dimiliki sebuah negara yang memproduksi tabun[5].

Kedua, tidak ada indikasi dan preseden historis bahwa Iran pernah mengembangkan dan menggunakan senjata-senjata biologis terkait. Bahkan, Iran adalah satu-satunya negara Timur Tengah yang menjadi anggota seluruh perjanjian non-proliferasi. Selain itu, Iran telah meratifikasi Konvensi Hague (1899 dan 1907); Protokol Jenewa (1925); Konvensi Senjata-senjata Toksin dan Biologis (1972); dan Konvensi Senjata Kimia (1993). Sebaliknya, catatan kelam rezim Saddam sarat dengan bukti-bukti penggunaan senjata kimia dan biologis, baik itu terhadap militer Iran maupun warga Kurdi, antara 1983-1988 (lihat Reuters, December 18, 2006, “Saddam says responsible for any Iran gas attacks”)[6].

Akhirnya, jelas terlihat bahwa analisis CIA tidak memahami karakteristik agen-agen kimia dan biologis yang digunakan dalam serangan tersebut. Hal ini wajar saja karena para penyusunnya tidaklah berasal dari bidang-bidang terkait: Stephen C. Pelletiere (ilmu politik), Kol. Douglas V. Johnson (studi strategis), dan Leif Rosenberger (ekonomi). Selain itu, terlihat jelas dari judulnya, analisis tersebut semata-mata ditujukan untuk mempertahankan kepentingan geostrategi Amerika di kawasan Teluk. Alhasil, amatlah disayangkan jika sebuah media sekelas Aljazeera mengutipnya mentah-mentah.


[1] [http://www.iht.com/articles/2002/11/29/edjoost_ed3_.php#].

[2] [http://en.wikipedia.org/wiki/Halabja_poison_gas_attack#Discovery]

[3] [http://en.wikipedia.org/wiki/MiG-23#Operators]

[4] [http://www.terrorismcentral.com/Library/Teasers/ChemIraq.html]

[5] [http://cns.miis.edu/pubs/programs/dc/briefs/030701.htm]

[6] http://www.boston.com/news/world/middleeast/articles/2006/12/18/saddam_trial_shown_govt_memos_about_gas_attacks/]

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: